Monday, June 13, 2011

Extra-Gratis

Pernahkah anda berpikir untuk keluar dari rumah, jalan-jalan, keliling-keliling, cuci mata dan yang pasti enjoy? Bukan sekedar keluar dari rumah, kelililng sekitar rumah atau hanya asal jalan-jalan di balai kota, di dekat rumah di dalam daerah sendiri. kalau itu sih biasa aja, dan bisa dilakuin oleh setiap orang yang  mau, tapi gimana kalau itu "jelas" gratis!!!!
Bepergian keluar kota atau dalam kota sendiri khususnya tempat wisata baik yang sudah terbuka maupun yang belum membutuhkan "ekstra" perencanaan, terlebih lagi apabila ke daerah-daerah pedalaman dan itu ...gratis!!. terbayang nggak bagaimana menyenangkannya perjalanan itu; berkeliling kemana saja plus semua akomodasi dan transportasi ditanggung. asik khan? yang pasti iya dong. siapa sih yang mau menolak rejeki, kemana-mana selalu dipasilitasi dan tak harus mengeluarkan duit. mau tau caranya? yuk...........!!!

untuk bepergian kemana-mana yang pasti, siapapun itu, harus punya tujuan yang jelas. mau kemana, ngapain aja, dan sama siapa, bagaimana kesana, dan segala macamnyalah yang harus diketahui termasuk mayoritas penduduknya apa, aktivitasnya apa, apa konstribusi yang bisa diberikan, dan apa yang dapat diperoleh ketika berada disana dan berapa besar "harga" yang harus dibayarkan, alias berapa besar dana yang dibutuhkan.setelah semua rampaung. sudah tau mau kemana, barulah mulai "berulah". (yang jelas, berulah itu harus mengikuti tata krama dan adat istiadat, dan tau diri). tau diri? maksudnya apa dong?
gini nih, tau diri itu harus jelas juga. ngapain coba ke tempat orang nggak ada tujuan, bisa bisa di tipu orang lagi dan dimasukkan kedalam sungai kalau ga tau mau ngapain.

perjalanan yang saya lakukan bermuara saat ada niat dalam hati untuk menjejakkan kaki di daerah pedalaman kalimantan timur.ketika sudah punya niatan untuk bepergian. kekurangan saya adalah suka menceritakan kepada orang lain saya mau kemana. sehingga banyak yang memberi saran bahkan tak jarang yang memberi masukan sedikit mencitukan hati. tapi tetap semangat karena sudah tekad, iya khan?
prinsip dasarnya adalah" masa jauh-jauh merantau di kalimantan, tinggal di Berau (salah satu kabupaten di sebelah utara kalimantan timur, yang memiliki banyak potensi wisata baik laut maupun hutan) tapi tak kenal daerah berau atau tak pernah menjejakkan kami di beberapa bagian Berau. nah inilah sumber malapetakanya. karena kepingin mengetahui berau makanya ada aja cara yang saya lakukan agar bisa "menjejakkan kaki" dimana pun yang saya mau.
tahun 2007, saat banyak ornag yang mulai mengagung agungkan pulau derawan, saya juga kepingin pergi kesana. pertanyaan pertama yang muncul setelah mendengar kata orang-orang yang mengatakan bahwa di pulau derawan kita bisa melihat penyu berenang yang sedang mencari makan. kita pun bisa menikmati indahnya sunset dan deru ombak dan bermain-main di pasir putih. lalu kalau malam bisa melihat penyu bertelur diatas pasir. dan yang pasti bisa menikmati keramahan warga pulau derawan yang ramah tamah. kalau mendengar cerita begitu. apa merasa nggak tertarik untuk kesana? kalau aku, past sangat tertarik. belum lagi cerita tentang pulau pulau baik berpenghuni ataupun tidak yang berada disekitar pulau derawan yang juga menyimpan keunikan dan minstry tersendiri. seperti pulau kakaban yang unik dengan danau air payaunya yang penuh dengan ubur-ubur yang telah berevolusi ribuan tahun sehingga kehilangan alat penyengatnya sehingga bisa berenang dan menyentuhnya sesuka hati. atau ada pulau maratua yang berdekatan dengan pulau kakaban dengan pesona bawah laut dan daratannya yang memang sangat menawan. (nanti aja diceritakan kenapa ia menawan, ya?) atau pulau sangalaki dengan pantainya yang berpasir putih dan pesona bawa lautnya yang luar biasa bagi para diver menikmati mantaray dan keindahan karangnya. disamping itu, bisa pula berwisata sambil menambah wawasan tentang siklus penyu yang bisa dilihat mulai dari bertelur, menetas, menjadi anak penyu (tukik), hingga penyu bertelur kembali dan banyak lagi pulau-pulau lainnya yang juga memiliki pesona tersendiri.

Wednesday, March 30, 2011

Bandeng tanpa duri/tulang (resep istimewa)


Suatu hari, saat waktu makan siang tiba, saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah  restoran yang baru beberapa hari buka di kota dimana saya berdomisili. Menu makanan tampak menggiurkan ketika melihat daftar menu yang disedorkan oleh seorang pramusaji. "Mau pesan apa?" tanya pramusaji itu ramah. Saya menelitinya satu persatu. Kemudian mata saya tertuju pada sebuah menu makanan khas Indonesia Ikan bandeng tanpa tulang. Saya cepat-cepat menuliskannya dalam sebuah buku kecil yang telah disediakan, kemudian menyedorkannya kepada pramusaji tersebut. Dia menerimanya kemudian berlalu pergi.
"Ikan bandeng tanpa tulang?" “Bagaimana mungkin? Kan bandeng itu dikenal dengan jenis ikan yang telah dilahirkan dengan banyak tulang, baik yang besar maupun yang kecil dan tulangnya halus-halus lagi?" gumamku dalam hati. Saya memang sangat doyan makan ikan bandeng, walau beberapa kali harus merintih karena tulang halusnya itu nyangkut tak berperasaan ditenggorokan. Dan saya harus menderita selama semalam untuk meredakannya. Dulu, bila itu terjadi, biasanya ibuku harus mondar mandir mencari cara untuk mengeluarkannya. Dan langkah paling akhir yang dilakukannya adalah dengan mempraktekkan mantra yang telah diperolehnya dari kakek yang secara turun temurun diwariskan dalam keluarga. Cara ini katanya sakti untuk mengeluarkan tulang hanya dengan satu teguk air yang langsung diminum dari timbah. sayapun meyakininya, karena selalu ampuh saat diteguk dan dioleskan di tenggerokan.
Sambil menunggu orderan datang, saya mencoba mengingat pelajaran sekolah tempo dulu tentang ikan bandeng, ikan favoritku itu. Orang bugis/makassar mengenal ikan bandeng dengan nama ikan BOLU. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) menurut pak Amat, guru IPA saya, seperti kebanyakan ikan yang lain, ikan bandeng atau Chanos chanos Fanorsskal, bahasa kerennya bagi para ilmuwan, sangat populer di Asia Tenggara karena rasanya yang sangat gurih. Rasa dagingnya netral alias tidak asin seperti ikan laut lainnya, dan tidak hancur kalau dimasak. Orang Barat mengenal jenis ikan ini dengan nama milkfish.
Selain dagingnya yang gurih, ada satu hal yang sangat mengganggu dari ikan ini, durinya. Tapi bagi yang telah merasakan lezatnya daging ikan ini, sepertinya soal duri tak lagi menjdi masalah. Bagi saya, untuk yang satu ini, saya tetap tak terlalu ambil pusing, karena ada mantra sakti ibuku yang telah diwariskan kepad saya, yakni bagaimana mengatasi masalah tulang ikan bandeng ini.  sebelumnya saya selalu percaya diri bahwa inilah cara bijaksana mengatasi fobia ikan bandeng. Ternyata, ada juga cara ampuh lainnya untuk mengatasi rasa was-was tulang ikan bandeng ini. Dan saya penasaran dibuatnya. Karenanya saya langsung memesan dobel. satu porsi makan di warung dan satu lagi buat makan malam di rumah. "mumpung ada yang praktis."
Setelah menghabiskan beberapa waktu, mengingat mantra ibuku dan mengamati interior restoran itu sambil menyedot jus yang telah lebih dulu disajikan, akhirnya pesananku itupun tiba. "Wah tampaknya segar dan aromanya membuatku ngiler". Sambil memerhatikan pramusaji menyiapkan hidangan itu, saya bertanya bagaimana caranya bandeng yang penuh tulang itu bisa dihidangkan tanpa tulang. Pramusaji itu tersenyum lalu  menjawab, “Silahkan dicoba dulu. Dinikmati! Kalau masih penasaran, setelah makan anda bisa menemui pak Tedy, dia adalah juru masak bandeng tanpa tulang ini." “itu dia di sebelah sana!” sambil menunjuk seseorang yang  berada dibalik kaca. "Saya permisi."
Selesai menikmati hidangan tersebut, saya lalu menemui pak Tedy. Dia adalah pemilik restoran itu. Pria setengah baya itu ternyata telah menekuni bisnis ikan bandeng ini selama lebih dari 5 tahun di beberapa tempat.
Sekian lama berbincang akhirnya Pak tedy bersedia membeberkan rahasia pengolahan bandeng tanpa tulangnya.
“Proses pengolahan bandeng tanpa tulang bukanlah hal baru. Sudah ada teknologinya, dan tidak rumit. Namun memerlukan ketelitian dan ketelatenan yang cukup dan dapat dan siapapun boleh membuatnya. Sangat mudah kalau mau mencoba.” Katanya.
Saya langsung ke ge-er-an. wah kebetulan nih. Kemudian sayapun melancarkan pertanyaan. "Bagaimana cara pengolahannya?" tany saya pada pak Tedy. Dia melihatku, lalu mengajakku ke ruang belakang. Saya mengikutinya sambil melihat sekitar. Beberapa alat dapur masih tertata rapi ditempatnya dan sebagian lainnya telah menumpuk di tempat pencucian. Pak Tedy lalu membuka kulkas, mengambil sebuah ikan Bandeng yang kelihatannya masih segar berukuran sekitar 350 gram. Kemudian satu persatu peralatan pengolahan disiapkannya dengan cepat. Sebuah pincet kecil, pisau gunting, baskom kecil dan tampa plastik.
"Ayo kita mulai!" kemudian dia langsung membelah ikan bandeng itu di atas tampa. "Bisa disisik terlebih dahulu atau langsung dibelah tergantung permintaan konsumen." Terang pak Tedy saat kutanya kenapa ikannya tidak dibersihkan dulu sisiknya sebelum dibelah. "Setelah ikan dibelah, maka insang dan isi perutnya dibersihkan, lalu tulang punggung dilepas secara hati-hati menggunakan pisau mulai dari pangkal ekor sampai ke bagian kepala."Dia berhenti sesaat, kemudian melanjutkan, "Ikan yang sudah terbelah dan tanpa tulang punggung, selanjutnya dicabut tulang dada, ekor, dan punggung dengan menggunakan pinset."
Saya mulai penasaran. “Bagaimana dengan tulang halus dan ekornya? Bagaimana cara mengeluarkannya?" Tanya saya penuh semangat. "Untuk daerah tersebut, pencabutan tulang harus dilsayakan pada tiga alur utama yaitu bagian tengah di sebelah kiri dan bagian kanan tulang punggung dan di bagian atas dan bawah alur tengah." Saya memperhatikan pak Tedy membelah dan mencabuti tulang itu dengan saksama. "Untuk pencabutan tulang di alur bagian tengah, posisi pinset harus tegak," terangnya, "Sedangkan pada alur lainnya posisi pinset harus tidur,” katanya sambil mempraktekkan cara mencabut tulang itu, “Setelah semua tulang telah tercabut, daging ikan dirapikan dan dilipat kembali seperti ikan utuh." Dia melanjutkan.
Saya belum merasa puas, lalu kembali bertanya, "Tapi bentuk ikan setelah dipermak, dicabuti tulangnya kan sudah tak karuan lagi tuh pak, gimana ya cara mengembalikannya biar tampak sempurna lagi?" Pak Tedy mendongakkan kepalanya melihatku, kemudian dia memperbaiki posisinya lalu dengan santai dia menjawab, "Sebaiknya, setelah dicabuti tulangnya, ikan tersebut ditempatkan lagi di freezer, bila ikan tersebut mau dipasarkan di luar, tapi kalau untuk konsumsi di dalam restauran ini saja ya langsung dibakar  dan dicampur dengan bumbu yang lain sesuai selera pelanggan kemudian dihidangkan.
Pak Tedy kembali sibuk membersihkan ikan tersebut. Setelah bersih dia membentuk kembali ikan itu seperti ikan utuh lagi, lalu memasukkannya kedalam kulkas. kemudian dia menoleh padaku, dan bertanya, "Apa sudah mengerti cara membuatnya? Sudah bisa buat sendiri di rumah?"  Saya hanya bisa tersenyum lalu menjabat tangan pak Tedy dengan erat sambil berulang kali mengucapkan terima kasih dan pamit pulang. "Terima kasih banyak pak atas ilmunya, semoga bisa bermampaat bagi saya dan orang lain.
Sebelum keluar dari restoran, saya mampir dibagian kasir untuk membayar makanan yang  telah saya makan dan mengambil pesanku yang lain. "Satu porsi ikan bandeng tanpa tulang bumbu rasa suka-suka" wah....aromanya tetap menggugah selera.
..................................................thanks..................................